Marhaban ya Ramadhan

•August 29, 2008 • Leave a Comment

Selamat Menjalankan Ibadah Puasa, Mohon Maaf Lahir dan bathin

Warung atau Kantor???

•July 7, 2008 • 1 Comment

Perhatikan ketiga gambar di atas?
Ada hal aneh tidak layak yang seharusnya tidak perlu ada..
Foto itu saya ambil di depan sebuah Instansi Pemerintahan. Apa yang aneh??
Anda bisa lihat ada tenda biru *kayak lagu Desi Ratnasari* yang dipasang di sudut kiri kantor.
Tidak ketinggalan, spanduk sebagai tanda keberadaan tenda itu pun dipajang.
Weks…ini kantor ato warung??
Sungguh tidak memikirkan nilai estetika..
Benar2 tidak enak dipandang…Spanduk jualan menutupi kantor seperti itu.
Apa sudah tidak ad lahan kosong untuk tempat berjualan???
Pegawai kantor apa tidak risih dengan keberadaan tenda itu atau merasa terbantu karena mudah n murah untuk jajan??
Semakin lama kok tata kota semakin tidak jelas n semrawut seperti ini..

Profesi Pustakawan

•April 11, 2008 • 4 Comments

Pustakawan..???????

Mungkin masih banyak orang yang belum mengetahui tentang profesi pustakawan. Bagi dunia keprofesian mungkin profesi pustakawan merupakan profesi yang tidak menarik, dibandingkan dengan profesi dokter, profesi akuntan, profesi pengacara dan profesi yang lainnya. bahkan seorang pustakawan mungkin kalau menyarankan anaknya untuk nantinya supaya dapat menjadi seorang dokter, arsitek, ataupun yang lainnya karena pustakawannya sendiri menganggap profesi pustakawan merupakan profesi yang tidak prestise…..

Supaya berhasil mengatasinya, pustakawan sebagai profesi harus memiliki beberapa ketrampilan, antara lain :

1.      Adaptability

Pustakawan hendaknya cepat berubah menyesuaikan keadaan yang menantang. Mereka tidak selayaknya mempertahankan paradigma lama yang sudah bergeser nilainya. Pustakawan sebaiknya adaptif memanfaatkan teknologi informasi. Feret dan Marcinek (1999) menyatakan bahwa pustakawan  harus berjalan seirama dengan perubahan teknologi yang terus bergerak maju dan pustakawan harus mampu beradaptasi sebagai pencari dan pemberi informasi dalam bentuk apapun. Pustakawan dalam memberikan informasi tidak lagi bersumber pada buku teks dan jurnal yang ada di rak, tetapi dengan memanfaatkan Internet untuk mendapatkan informasi yang segar bagi penggunanya. Erlendsdottir (1997) menyatakan kita bukan lagi “penjaga” buku. Kita adalah information provider di situasi yang terus berubah dan dimana kebutuhan informasi dilakukan dengan cepat dan efektif. Sekarang misi kita adalah mempromosikan jasa-jasa untuk informasi yang terus membludak. Dan bahkan jika kita tidak berubah, teknologi informasi akan mengubah tugas kita.

2.      People skills (soft skills)

Pustakawan adalah mitra intelektual yang memberikan jasanya kepada pengguna. Mereka harus lihai berkomunikasi baik lisan maupun tulisan dengan penggunannya. Agar dalam berkomunikasi dapat lebih impresif dengan dasar win-win solution maka perlu people skills yang handal. Menurut Abernathy dkk.(1999) : …perkembangan teknologi akan lebih pervasive tetapi kemampuan tentang komputer saja tidaklah cukup untuk mencapai sukses. Karena itu membutuhkan people skills yang kuat yaitu :

a.      pemecahan masalah (kreatifitas, pencair konflik)

b.      Etika (diplomasi, jujur, profesional)

c.      Terbuka (fleksibel, terbuka untuk wawasan bisnis, berpikir positif)

d.      “Perayu” (ketrampilan komunikasi dan mendengarkan atentif)

e.      Kepemimpinan (bertanggung jawab dan mempunyai kemampuan memotivasi)

f.        berminat belajar (haus akan pengetahuan dan perkembangan). Hal ini didukung oleh Feret dan Marcinek (1999), yang mengatakan bahwa pustakawan masa depan harus sudah siap untuk mengikuti pembelajaran seumur hidup. Hal ini penting agar pustakawan mudah beradaptasi.

People skills ini dapat dikembangkan dengan membaca, mendengarkan kaset-kaset positif, berkenalan dengan orang positif, bergabung dengan organisasi positif lain dan kemudian diaplikasikan dalam aktivitasnya sehari-hari.

3.      Berpikir positif

Didalam otak kita terdapat mesin “yes” . Ketika kita dihadapkan sesuatu pekerjaan yang cukup besar, maka umumnya kita berkata : Wah….. tidak mungkin; aduh….. sulit, dsb. Maka apa yang kita laksanakan juga tidak mungkin terjadi . Pesimistis . Dan pesimistis bukan sifat pemenang tapi pecundang. Pustakawan diharapkan menjadi orang di atas rata-rata. Sebagai pemenang yang selalu berpikiran positif, sehingga jika dihadapkan pada pekerjaan besar seharusnya berkata “yes” kami bisa. Remember, you are what you think, you feel what you want. Orang Jawa berkata mandi ucape dewe

4.      Personal Added Value

Pustakawan tidak lagi lihai dalam mengatalog, mengindeks, mengadakan bahan pustaka dan pekerjaan rutin lainnya, tetapi di era global ini pustakawan harus mempunyai nilai tambahnya. Misalnya piawai sebagai navigator unggul. Dengan nilai tambah, yang berkembang dari pengalaman , training dsb, pustakawan dapat mencarikan informasi di Internet serinci mungkin. Hal ini sudah barang tentu akan memuaskan pengguna perpustakaan. Kepuasan pengguna itu sangat mahal  bagi dirinya maupun bagi perpustakaan dimana ia bekerja.

5.      Berwawasan Enterpreneurship

Sudah waktunya bagi pustakawan untuk berpikir kewirausahaan. Informasi adalah kekuatan. Informasi adalah mahal, maka seyogyanya pustakawan harus sudah mulai berwawasan enterpreneurship agar dalam perjalanan sejarahnya nanti dapat bertahan. Lebih-lebih di era otonomi, maka perpustakaan secara perlahan harus menjadi income generation unit. Memang sudah ada pustakawan yang berwawasan bisnis, tapi masih belum semuanya. Paradigma lama bahwa Perpustakaan hanya pemberi jasa yang notabene tidak ada uang harus segera ditinggalkan.

6.      Team Work – Sinergi

Di dalam era global yang ditandai dengan ampuhnya Internet dan membludaknya informasi, pustakawan seharusnya tidak lagi bekerja sendiri. Mereka harus membentuk team kerja untuk bekerjasama mengelola informasi. Choo yang dikutip Astroza dan Sequeira (2000) mengatakan bahwa perubahan teknologi menawarkan kesempatan unik untuk bekerjasama lintas disiplin dengan profesional lainnya :

       pakar komputer yang bertanggung jawab pada pusat komputer

–         pakar teknologi yang bertanggung jawab pada infrastruktur teknologi, jaringan dan aplikasi

–         pakar informasi (pustakawan) yang mempunyai kemampuan dan pengalaman untuk mengorganisasi pengetahuan dalam sistem dan struktur yang memfalisitasi penggunaan sumber informasi dan pengetahuan.

Diharapkan dengan team work, tekanan di era industri informasi dapat dipecahkan. Menurut Astroza dan Sequeira (2000) perubahan teknologi dan perkembangan industri informasi berdampak luas pada profesional informasi : pustakawan, arsiparis, penerbit. Profesi ini menghadapi 2 tekanan komplementer, yaitu :

1.      perkembangan jumlah informasi dan tersedianya teknologi baru, memungkinkan untuk akses dan memproses informasi lebih besar dari lima tahun yang lalu.

2.      harapan pengguna yang terus meningkat dapat menciptakan kebutuhan jasa informasi yang kualitasnya lebih canggih.

Dengan enam ketrampilan di atas diharapkan pustakawan akan terus berkembang menjalankan tugasnya seiring dengan perubahan jaman yang begitu cepat. Profesionalisme pustakawan akan lebih mendarah daging dan menjiwai setiap aktivitasnya.

Ini merupakan tantangan bagi temen-temen yang berprofesi pustakawan untuk ikut andil dalam memberikan nilai tambah demi mengangkat profesi pustakawan sejajar dengan profesi-profesi lainnya. Sehingga nantinya pustakawan benar-benar menjadi “INFORMATION SPECIALIST

 

Dialek mBlora

•April 11, 2008 • 1 Comment

Dhialèk Blora iku sawijining dhialèk basa Jawa sing dipituturaké ing Kabupaten Blora lan tlatah sakubengé klebu sawetara tlatah Jawa Wétan sing wewatesan karo Jawa Tengah, utamané ing daérah Padhangan, Bojonegoro. Wilayah Blora pancèn adoh saka punjering Jawa Tengah lan ngrupaaké tapel wates karo wilayah Jawa Wétan mula ora anèh yèn dhialek Blora kuwi ora pati alus kaya basa Jawa sing apunjer ing Solo lan Ngayogyakarta. Sakliyané kena pengaruh geografis arupa tlatah pesisir, perkembangan dhialek Blora uga akèh éntuk pengaruh saka basa Jawa Wetanan. Sakbeneré dhialèk Blora mono ya ora pati béda karo dhialèk Jawa Tengah liyane, mung ana sawetara istilah kang nyata nyata khas Blora, umpamané:

  • nDak iya “lèh”?? (kira kira pada karo “Masak iya sih”).
  • Piye “lèh” iki?? Kok “ogak” “mulèh-mulèh”, malah dha neng ngisor “greng”??
  • Nèng kéné hawané “anyep”, wetengku wis “lesu”.
  • Wis ndang di”genjong”, “engko” selak masuk angin.

(http://jv.wikipedia.org/wiki/Dhialek_Blora)